July 2005

You are currently browsing the monthly archive for July 2005.

Sinteron Indonesia Menjiplak

Kebanyakan sinetron Indonesia memang menyedihkan. Ceritanya itu-itu saja: orang kaya yang marah-marah dan peran utama yang melulu tertindas. Semua karakter ditampilkan dengan hitam dan putih. Tokoh jahat ditampilkan benar-benar jahat seolah-olah tak ada kebaikan sedikit pun di dalam dirinya. Sementara tokoh baik ditampilkan bak malaikat seolah-olah tak ada sedikit pun keburukan pada dirinya. Tentu saja ini tidak manusiawi karena manusia hidup di daerah abu-abu.

Pun, sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa sinetron kita ini banyak yang merupakan hasil sontekan dari sinetron luar, biasanya dari Hongkong, Jepang, atau Korea. Ketika dikonfirmasi, para produser atau sutradara biasanya mengelak dengan mengatakan, “Ini bukan menyontek, tetapi terinspirasi saja.” Yeah, right. Terinspirasi sampai mirip 90%? Yang bener aja. Simak lanjutannya »

Harry Potter and the Half-Blood Prince

Buku keenam serial Harry Potter, Harry Potter and the Half-Blood Prince, sudah diluncurkan di negara asalnya, Inggris, pada 16 Juli lalu. Selain dalam cetakan biasa, buku ini juga diterbitkan dalam edisi Braille.

Meskipun edisi berbahasa Inggris sudah bisa didapatkan, tampaknya kehebohan Harry Potter di Indonesia terpaksa harus ditunda dulu karena terjemahan buku ini diperkirakan baru akan rilis awal tahun depan. Awal tahun lalu, pembaca Indonesia sampai harus antre saat penerbit buku Harry Potter, Gramedia Pustaka Utama, mengadakan acara khusus ketika launching buku terjemahan Harry Potter kelima, Harry Potter dan Orde Phoenix. Simak lanjutannya »

Please…

Menyebalkan!

Seorang teman kerja saya—perempuan—sering kali menelepon meminta bantuan soal komputer. Saat meminta tolong, suaranya berubah menjadi memelas dengan intonasi seperti seorang ibu yang sedang menasihati anaknya. Simak lanjutannya »

Menerjemahkan

Siapa bilang menerjemahkan itu gampang? Kefasihan Anda berbahasa asing tidak lantas menjadi jaminan bahwa Anda pun mahir dalam menerjemahkan.

Dulu kita—tepatnya: saya—sempat terbuai saat membaca buku-buku Kahlil Gibran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sri Koesdiantinah. Sampai sekarang pun keindahan kalimat-kalimat itu masih terasa. Kemudian beberapa tahun terakhir, karya penyair Lebanon ini banyak pula diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit lain. Kualitasnya ternyata memang lebih baik. Di sampul. Isinya? Saya sama sekali tidak bisa menikmatinya. Simak lanjutannya »

« Older entries