
Siapa bilang menerjemahkan itu gampang? Kefasihan Anda berbahasa asing tidak lantas menjadi jaminan bahwa Anda pun mahir dalam menerjemahkan.
Dulu kita—tepatnya: saya—sempat terbuai saat membaca buku-buku Kahlil Gibran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sri Koesdiantinah. Sampai sekarang pun keindahan kalimat-kalimat itu masih terasa. Kemudian beberapa tahun terakhir, karya penyair Lebanon ini banyak pula diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit lain. Kualitasnya ternyata memang lebih baik. Di sampul. Isinya? Saya sama sekali tidak bisa menikmatinya.
Tentu dibutuhkan lebih dari sekadar kemampuan berbahasa untuk menerjemahkan sebuah literatur. Misalnya, Anda harus terlebih dahulu menangkap gagasan si penulis buku. Anda juga mungkin harus mengenal keadaan sosial budaya tempat si penulis itu tinggal, menguasai disiplin ilmu dari buku yang sedang Anda terjemahkan, bahkan—kalau perlu—selidiki terlebih dahulu biografi si penulis. Dengan demikian hasil terjemahan akan mendekati keindahan aslinya karena, dengan upaya-upaya tadi, Anda telah berusaha menghadirkan “roh” si penulis dalam hasil terjemahan Anda.
Itulah sebabnya mengapa hasil terjemahan software-penerjemah secanggih apapun akan terasa sangat kering dan kehilangan nyawanya. Apalagi jika hasil terjemahan tersebut adalah hasil terjemahan dari bahasa lain yang juga merupakan hasil terjemahan dari bahasa lainnya lagi. Seperti yang bisa Anda coba di situs ini.
Tags: bahasa
Entri yang Mungkin Terkait
- ZOOOF: Jejaring Keluarga Online
- Lokalisasi Bahasa Indonesia untuk Tarski
- Harry Potter and the Half-Blood Prince
- 20.000 Mil di Bawah Lautan
- Macro Excel: Mengubah Angka Menjadi Teks
Komentar. Silakan berikan komentar Anda. Beberapa tag HTML diperbolehkan. Anda juga dapat mendaftar di Gravatar untuk menampilkan foto Anda.









2 comments
Comments feed for this article
Trackback link: http://priatna.or.id/2005/07/13/menerjemahkan-itu/trackback/