
Kartu nama ini saya temukan saat saya sedang mengaduk-aduk tumpukan kertas di bawah meja komputer di rumah—kartu nama seorang rekan yang sebenarnya saya cari, sampai saat ini, malah belum ditemukan.
Ibu Cicih adalah salah satu dari banyaknya perajin keramik di Plered, Purwakarta. Kata teman yang merekomendasikan, keramik buatan Ibu Cicih ini bagus dan, yang penting buat saya, murah. Konon, Ibu Cicih memiliki areal persawahan yang mengandung tanah liat merah yang berkualitas bagus. Masih menurut teman saya tadi, salah seorang pelopor perajin keramik di daerah Plered ini sekarang sudah pensiun. Usahanya kini diteruskan oleh anak-anaknya.
Dahulu, sejak tahun 1904, saat pertama kali industri keramik diperkenalkan di Plered, barang yang dihasilkan hanyalah sebatas gerabah alat-alat rumah tangga. Namun, mulai tahun 1970-an, industri ini mulai melebar dengan menghasilkan keramik sebagai hiasan rumah tangga. Sayangnya, sejak ruas jalan tol Cipularang beroperasi, penjualan keramik terus mengalami penurunan, meskipun untuk ekspor, nilainya semakin meningkat.
Tapi para perajin ini tak kurang siasat. Salah satunya, mereka membuat kartu nama untuk memasarkan produk dan membagikannya kepada para pengunjung. Lihatlah kartu nama Ibu Cicih ini. Jika Anda ingin mencari berbagai bentuk kerajinan keramik, atau sekadar ingin mengucapkan terima kasih tetapi bingung kepada siapa ucapan itu harus diberikan, Ibu Cicih dengan senang hati akan menerima.
Tags: bahasa, purwakarta
Entri yang Mungkin Terkait
- Purwakarta dan Saya
- Tangga di Kapal
- Mencairkan Dana Jamsostek
- 20.000 Mil di Bawah Lautan
- Terjebak Klise
Komentar. Silakan berikan komentar Anda. Beberapa tag HTML diperbolehkan. Anda juga dapat mendaftar di Gravatar untuk menampilkan foto Anda.
-
Ibu, kalau produk mug bisa di pesan tidak ibu…









2 comments
Comments feed for this article
Trackback link: http://priatna.or.id/2006/06/22/keramik-dan-ucapan-terima-kasih/trackback/