Semoga Bukan Hanya Sebuah Berita yang ‘Ingin’ Kami Dengar

Sekitar dua bulan yang lalu, saya mengajak Akmal ke sebuah rumah sakit. Kami—saya dan istri—khawatir dengan batuknya yang tak kunjung sembuh. Hampir satu bulan! Biasanya dalam hitungan hari, batuk atau flu biasa sembuh, tetapi yang ini tidak.

DSA yang memeriksa saat itu, setelah mendengar apa yang terjadi, menganjurkan agar Akmal menjalani beberapa pengujian. “Mudah-mudahan bukan, tapi saya curiga ini flek paru,” katanya.

“Maksud Dokter, anak saya mungkin terkena TB paru?”

Ibu Dokter tampak terkejut, “Ya, bisa dibilang begitu.”

Ada tiga pengujian yang harus Akmal lakukan saat itu: uji mantoux, uji darah, dan rontgen. Akmal meringis saat uji mantoux dan pengambilan contoh darah. Saya tahu dia kesakitan tetapi berusaha menahan tangis. Sampai-sampai petugas laboratorium bilang, “Gak apa-apa, boleh nangis kok.” Mata istri saya sih, sudah berkaca-kaca sejak tadi. Saya jadi teringat saat Akmal dulu diimunisasi dengan suntikan. Istri saya tidak pernah mau masuk ruang imunisasi. “Gak tega,” katanya.

Tiga hari kemudian hasil pengujian sudah bisa kami dapatkan. Saya tidak begitu mengerti hasil uji darah dan rontgen, tetapi saya tahu hasil uji mantoux adalah negatif: di lengan bekas suntikan mantoux, tidak ada benjolan merah.

Namun, walaupun tahu bahwa diagnosis TB tidak hanya berdasarkan uji mantoux, kami tetap terkejut mendengar vonis dokter. Meski hasil uji mantoux negatif, dokter berpendapat bahwa hasil uji darah dan rontgen menunjukkan kecenderungan Akmal mengidap gejala TB paru. Beliau lalu mengharuskan Akmal menjalani terapi dengan meminum antibiotik—yang minta ampun banyaknya untuk ukuran anak berumur 4 tahun—setiap hari selama 2 bulan. Jika terlihat manjur, terapi ini kemudian akan diteruskan sampai 6 bulan.

Saya sudah membayangkan hari-hari “penuh siksaan” yang harus Akmal hadapi selama berbulan-bulan. Selama 180 hari dia harus meminum 4 jenis antibiotik tanpa boleh terlewat sekali pun.

Tapi nanti dulu. TB paru, terutama pada anak, katanya adalah termasuk penyakit yang sulit didiagnosis. Saya tahu DSA ini lebih berpengalaman dibanding kami dalam menangani masalah penyakit anak. Tapi rasanya kewajiban kami juga untuk mencari pendapat kedua dari DSA lain, bukan? Akmal tidak akan saya beri antibiotik tadi sebelum saya benar-benar yakin bahwa dia memang harus mengonsumsinya.

Kami kemudian berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis paru anak di RSIA Hermina Jatinegara—sesuai saran Dinny lewat YM. Saya ceritakan vonis DSA sebelumnya. Saya juga perlihatkan ketiga hasil pengujian yang sudah dilakukan. Setelah meneliti semuanya, ternyata Dokter berpendapat lain: Akmal tidak menderita TB paru. Sungguh melegakan. Beliau kemudian menuliskan resep. “Ini bukan obat. Ini vitamin,” katanya.

Di perjalanan pulang, istri saya sempat bertanya, “Dua dokter dengan dua diagnosis yang berbeda. Mana yang kita percaya?”

Saya menimpali, “Spesialis anak dan spesialis paru anak. Untuk kasus Akmal, mana yang kita percaya?”

Di rumah, saya memandangi tumpukan antibiotik di atas meja. Semoga diagnosis terakhir ini memang benar, bukan hanya sekadar berita yang ingin kami dengar.

Ilustrasi: Justine Beckett/Digital Vision/Getty Images

Tags: , , , , ,

Entri yang Mungkin Terkait

Komentar. Silakan berikan komentar Anda. Beberapa tag HTML diperbolehkan. Anda juga dapat mendaftar di Gravatar untuk menampilkan foto Anda.

  1. jalansutera’s avatar

    coba cross-check ke dokter umum. nggak usah perlihatkan uji yang sudah dilakukan. nggak usah cerita komentar dokter paru. seteleh second advice dilakukan dan masih ragu, coba dengan third advice.

  2. eka’s avatar

    Terima kasih untuk sarannya. Sekarang Akmal sudah saya sudah beri vitamin yang dari dokter itu. Sebulan terakhir sih berat badannya bertambah. Saya coba itu dulu. Jika memang ternyata perubahannya tidak signifikan, saya akan mencari opini ketiga.

  3. Ahmad Khaerudin’s avatar

    Saya orang tua dari Ghozi 11 thn yang punya pengalaman hampir sama dengan ibu Akmal, karena anak saya sering batuk pilek dan bobot badanya kurang, mudah capek/lelah terutama kalau olah raga. Saya curiga lalu saya dan istri bawa anak ke dokter di tes darah dan rontgen, setelah dicek dokter ada gejala TB paru dan diberi resep obat untuk 2 pekan, lalu hasil itu dibawa ke puskesmas disuruh tes mantoux tapi negatif saya jadi bingung juga mana yang paling benar. Untuk sementara dikasih obat dan vitamin selama 1 bulan lihat perkembangannya dulu. Sya akan ikuti jejak ibu Akmal untuk mencari titik kebenaran yang benar-benar akurat sebelum terlambat. salam kenal semoga jadi pelajaran. (Ahmad Kh and Nurleila di Duren 1000 )

  4. eka’s avatar

    Mas Ahmad, salam kenal juga. Hasil tes mantoux yang negatif tidak lantas memberi kesimpulan bahwa Ghozi tidak memiliki TB paru. Harus pula disandingkan dengan hasil tes dan ciri-ciri yang lain. Dokter tentunya lebih tahu soal ini. Kalau Ghozi sudah diperiksa dokter, sebaiknya memang kita cari opini kedua dari dokter lain. Untuk lebih meyakinkan saja.

    Salam buat Ghozi. Semoga sehat-sehat saja, ya.

  5. asep kusdian’s avatar

    memang kita harus objective dalam hal ini kadang2 kita menjadi subjective kalau kita terlalu banyak melibatkan emosi. Kemungkinannya masih 50%:50% tetapi kalau melihat paparan diatas hasil uji mantoux negatif, uji darah dan rontgen masih kecenderungan itu juda masih 50:50. Saya pribadi 85% lebih mempercayai ahli paru anak. tidak ada salahnya punya keyakinan yang besar pada sesuatu, tetapi jangan dibutakan. sambil melihat perkembangan Akmal. continue check ke dokter ahli paru anak tsb.

  6. eka’s avatar

    Nuhun A Asep, untuk komentar dan sarannya. Setahun ini kami terus amati perkembangan kesehatannya, dan kelihatannya sudah membaik. Waktu itu, setelah vitaminnya habis, kami bawa Akmal kembali menemui Pak Dokter Spesialis. Beliau malah bilang, “Lho, anak sehat begini kok dibawa ke dokter?”

    “Saya mau cek ulang aja, Dok. Mau tahu perkembangannya,” jawab saya.

    “Sudah membaik. Jangan sering-sering bawa anak ke dokter kalau gak perlu-perlu amat. Nanti saya bisa jadi kaya, lho,” candanya.

    Dokter yang aneh.

  7. ibu rian’s avatar

    salam kenal. saya sekarang sedang gundah menunggu hasil Rontgen anak saya yang baru saja divonis Flek paru/TB, anak saya baru 2 tahun bulan Agustus ini,dia anak yang amat pintar dan sehat, sejak dari lahir dia seperti ada alergi yang setiap beberapa hari sekali dia tiba-tiba batuk, sampai sekarang saya belum tahu apa penyebabnya, sekarang dokter yg biasa menangani anak saya memvonis anak saya flek, kira-kira apa ya yang harus saya lakukan?

  8. ratih’s avatar

    Anakku dulu dipapua pernah di vonis kena TB. Minum obat selama 9 bulan. Dan dinyatakan sembuh oleh dokter. 2 tahun setelahnya kami pindah ke Jakarta, anakku ( axl namanya ) sering batuk dan pilek. Ditest mantoux positif TB. Minum lg obat 9 bln. Apa iya TB bisa berulang. Dokter spesialis paru anak yg bagus dimana sih ? Mohon infonya ya..