Di dekat rumah mertua saya, ada penjual bubur ayam bernama Ceu Warin. Ceu itu panggilan kakak perempuan dalam bahasa Sunda, dari Euceu. Selepas subuh Ceu Warin sudah mulai berjualan dan biasanya sekitar pukul 8 atau 9, buburnya sudah habis.
Selain bubur ayam, dia juga menjual jajanan lain. Favorit saya adalah bala-bala dan gehu. Kalau kebetulan saya membawa anak-anak untuk bersarapan bubur ayam di sana, saat pulang biasanya Ceu Warin “menghadiahi” mereka dengan bala-bala atau gehu. Tidak selalu sih, tetapi cukup sering. Saya senang bukan karena hadiahnya itu, tetapi karena Ceu Warin telah memberikan perhatian kepada anak-anak saya. Dalam kadar tertentu, hubungan Ceu Warin dan kami tidak lagi sekadar hubungan jual-beli.
Terima kasih, Ceu Warin.
Sewaktu tinggal di Purwakarta, kami punya tetangga yang membuka warung di rumahnya. Pak Yayat dan Bu Yayat, namanya. Setiap kali saya atau istri berbelanja di sana, dan kebetulan anak-anak kami bawa, Pak Yayat atau Bu Yayat biasanya “menghadiahi” anak-anak dengan makanan yang ada di warung. Kadang-kadang donat, kue, atau kerupuk. Tidak selalu begitu, tetapi sering. Saya senang. Dalam kadar tertentu, hubungan Pak Yayat dan kami tidak lagi sekadar hubungan jual-beli.
Terima kasih, Pak Yayat.
Kemarin, saya bawa anak-anak berbelanja di Margo City, Depok. Pulangnya, saya mampir di gerai donat J.Co dan membungkus beberapa untuk saya bawa pulang. Saat membayar di kasir, penjaga kasir menyapa kedua anak saya, “Halo Adek, habis jalan-jalan, ya? Ini satu buat Kakak, satu lagi ini buat Adek, ya.”
Sesaat kemudian, kedua anak saya sudah menggenggam masing-masing satu donat Glazzy. Kami berterima kasih, tetapi agak heran juga. Saya pikir kebiasaan “menghadiahkan barang dagangan” hanya dilakukan oleh penjual “rumahan” yang sangat fleksibel dalam mengelola keuangan, dan tidak biasa oleh penjual yang harus cermat menghitung dagangan yang terjual dengan pemasukan yang didapat.
Apakah ini spontanitas mbak-penjaga-kasir—karena melihat anak saya (dan ayahnya) yang, ehm, lucu-lucu—atau memang sudah kebijakan perusahaan untuk “menghadiahi” anak-anak yang berkunjung ke gerai, saya tidak tahu (dan segan bertanya). Tapi saya senang. Dalam kadar tertentu, hubungan J.Co dan kami tidak lagi sekadar hubungan jual-beli.
Terima kasih, J.Co.
Entri yang Mungkin Terkait
- Semoga Bukan Hanya Sebuah Berita yang ‘Ingin’ Kami Dengar
- Jangan Sampai Termakan!
- Bersepeda Motor
- Detikcom Tidak Peka
- Sehari Tanpa Komputer
Komentar. Silakan berikan komentar Anda. Beberapa tag HTML diperbolehkan. Anda juga dapat mendaftar di Gravatar untuk menampilkan foto Anda.






1 comment
Comments feed for this article
Trackback link: http://priatna.or.id/2007/02/12/bukan-sekadar-jual-beli/trackback/