Bermain di Taman Lalu Lintas Cibubur

Hari Minggu kemarin, saya mengajak keluarga mengunjungi Taman Lalu Lintas di Cibubur. Saya sendiri belum pernah ke sana dan tahu keberadaan tempat ini dari sebuah acara di televisi. Pagi hari, sebelum berangkat, istri saya menghubungi salah seorang temannya yang tinggal di daerah Cibubur, bertanya lokasi persis taman tersebut, sebelum kami semua nyasar ke mana-mana.

Oh ya, soal nyasar, sepertinya ini kutukan buat kami … ya deh iya, buat saya. Entah bagaimana, saya sering kali nyasar pada kunjungan pertama ke sebuah tempat. Saya pernah tiba-tiba muncul di Condet, padahal saya bermaksud ke Jatinegara. Saya juga pernah harus terpaksa berputar-putar di Cilangkap, Jakarta Timur, hanya karena pintu keluar menuju Bogor di ruas tol T.B. Simatupang terlewati.

Itulah mengapa istri saya lantas menghubungi temannya dan berusaha memperoleh informasi lengkap di mana lokasi taman lalu lintas ini tepatnya berada. Sang teman, sepertinya sedang terburu-buru, hanya menjawab, “Di daerah McDonald Cibubur, tanya aja sama orang di sana. Pasti semua tau.” Oh, oke deh.

Sampai di tempat yang disarankan, saya tanya tukang parkir di sana. Setelah dua detik terlihat berpikir, dia menjawab dengan yakin, “Bapak lurus aja ke sana, nanti ada plangnya kok, keliatan.” Dia menunjuk ke arah jalan Alternatif Cibubur.

“Sebelah kiri jalan atau sebelah kanan, Pak?”

“Sebelah kiri. Lumayan agak jauh sih, ada kira-kira 8 km dari sini.”

“Sebelum Citra Gran?”

“Iya, sebelum itu.”

Kami pun melanjutkan perjalanan. Tapi sudah lebih dari 8 kilometer, papan nama yang katanya akan terlihat jelas itu belum tampak sama sekali. Istri saya lantas kembali menghubungi temannya beberapa kali. Gagal tersambung. Akhirnya saya ambil ponsel, membuka Google, dan hasilnya: Taman Lalu Lintas ternyata berada di area Bumi Perkemahan Wiladatika, Cibubur, yang pintu masuknya berjarak kira-kira 100 meter dari tempat tukang parkir yang tadi saya tanyai.

Gara-gara macet, perlu waktu satu jam untuk kembali ke tempat tadi. Terima kasih banyak, Abang Tukang Parkir. Untunglah tadi saya tak bertanya di mana letak Monas. Bisa-bisa saya nyasar sampai ke Surabaya.

Harga tiket untuk memasuki kawasan perkemahan adalah 6.000 rupiah per orang. Bila membawa kendaraan roda empat, Anda harus pula membayar biaya tambahan 8.000 rupiah. Letak Taman Lalu Lintas Saka Bhayangkara, diresmikan pertengahan April 2007 oleh Ibu Negara, ini berada di bagian barat bumi perkemahan. Untuk masuk ke sana, Anda diwajibkan membayar 1.000 rupiah per orang untuk biaya kebersihan.

Taman ini lumayan luas, lebih dari 5 hektare. Di dalamnya dibangun lintasan-lintasan menyerupai jalan raya, lengkap dengan rambu-rambu dan lampu lalu lintas, serta lintasan kereta api mini yang mengelilingi taman. Di dalamnya juga tersedia areal bermain dengan pohon-pohon yang rimbun. Bila sudah lelah, Anda dapat beristirahat di kursi atau ayunan yang disediakan di setiap sudut taman sambil menikmati makanan dan minuman yang Anda bawa dari rumah, atau didapat dari kantin di sana.

Akmal dan Faiq senang sekali saat menaiki Fun Car. Mobil mungil ini—disewa 5.000 rupiah per 10 menit—berbahan bakar bensin (atau solar?), dan cuma punya dua pedal: gas dan rem. Akmal menyetir sementara Faiq duduk di sebelahnya. Mereka menyusuri jalanan di taman itu dengan riang, berusaha menaati rambu: berhenti ketika lampu lalu lintas menyala merah, lalu kembali menginjak gas saat lampu berubah hijau.

Beberapa orangtua—termasuk saya—terlihat cemas saat melepas anak-anak mereka menaiki Fun Car. Seorang bapak berkali-kali menanya anaknya yang berumur 5 tahun, “Kamu berani, kan?” Si anak mengangguk-angguk dengan semangat. “Gas di sebelah kanan,” lanjut sang bapak sambil menunjuk kaki kanan anaknya, “dan itu rem di sebelah kiri.”

Si anak mengangguk.

Beberapa detik kemudian, sang bapak kembali menghampiri anaknya, “Bener kamu berani?”

Si anak kembali mengangguk.

“Jangan lupa, rem di sebelah kiri. Gas di kanan.”

Lalu ketika mesin mobil mini sudah mulai dihidupkan oleh petugas, dan si anak mulai melaju perlahan, sang bapak kembali menanya anaknya, setengah berteriak, “Rem yang manaaa?”

“Kiri,” jawab anaknya singkat.

“Gas yang manaaaa?”

“Kanan.”

Dan beberapa detik kemudian si anak menghantam pembatas jalan dengan sukses.

Sore hari, kami pulang dengan hati riang. Akmal dan Faiq tak henti-hentinya bercerita—dibantu gerakan tangannya—pengalaman mereka naik mobil mini mengelilingi jalanan. “Hebat, ada lampu lalu lintasnya,” cerita Akmal. “Iya, ada polisinya juga!” tambah Faiq.

Sementara Iksir mengangguk-anggukkan kepalanya seolah setuju.

Tags: , , ,

Entri yang Mungkin Terkait

Komentar. Silakan berikan komentar Anda. Beberapa tag HTML diperbolehkan. Anda juga dapat mendaftar di Gravatar untuk menampilkan foto Anda.

  1. Avatar milik jalansutera

    uh, kek cerpen aja nih. hihihi…

  2. Avatar milik eka

    ya siapa tau dimuat lagi di hai. heheh.

  3. Avatar milik sonny

    kayaknya bagus dicoba buat liburan bareng anak2 yah…
    sayang anak saya masih kecil, tapi nanti dia pasti suka tuh..
    thanks buat rujukannya

  4. Avatar milik Aminta

    Bagus kok. Nulis lagi aja.

  5. Avatar milik riyanto

    lucu juga critanya, lg browsing2 bertema taman lalu lintas cibubur….
    istri pengen ngajakin anak2 kesana

    riyanto
    http://www.nashwashop.com
    jual : popok kain modern (cloth diapers), pembalut kain modern (menstrual pads), alas ompol renata, wet bag.

  6. Avatar milik endang

    ea saya suka tmpt yg rindang dn bersih da smpt nt sy bw keluarga ksana

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre lang="" line="" escaped="" highlight="">