bahasa

You are currently browsing articles tagged bahasa.

“Dapatkah cara berbahasa orang diperbaiki selama adab yang bersangkutan tak dibenahi?” — Kesangsian Sekretaris Redaksi Jurnal Kebudayaan Kalam Eko Endarmoko terhadap praktik berbahasa masyarakat luas yang dianggapnya tidak sepadan dengan usaha pemerhati bahasa Indonesia. Bahasa Menunjukkan Bangsa; Koran Tempo.

12 July 2006 | No comments

Kartu Nama

Kartu nama ini saya temukan saat saya sedang mengaduk-aduk tumpukan kertas di bawah meja komputer di rumah—kartu nama seorang rekan yang sebenarnya saya cari, sampai saat ini, malah belum ditemukan.

Ibu Cicih adalah salah satu dari banyaknya perajin keramik di Plered, Purwakarta. Kata teman yang merekomendasikan, keramik buatan Ibu Cicih ini bagus dan, yang penting buat saya, murah. Konon, Ibu Cicih memiliki areal persawahan yang mengandung tanah liat merah yang berkualitas bagus. Masih menurut teman saya tadi, salah seorang pelopor perajin keramik di daerah Plered ini sekarang sudah pensiun. Usahanya kini diteruskan oleh anak-anaknya. Simak lanjutannya »

Image taken from gettyimages.com

Bagaimana Anda melafalkan bilangan desimal ini: 1,23. Apakah satu koma dua tiga ataukah satu koma dua puluh tiga?

Telinga saya sering kali terganggu jika ada—terutama pembaca berita di televisi—yang melafalkan bilangan desimal dengan cara kedua. Bilangan desimal 1,23 seharusnya dibaca satu koma dua tiga bukannya satu koma dua puluh tiga. Tidak ada puluhan atau belasan atau ratusan atau jutaan dan seterusnya, di bagian desimal sebuah bilangan.

Anda harus membaca dua belas koma satu dua (bukan dua belas koma dua belas) untuk bilangan desimal 12,12. Bilangan desimal 3,123 harus dibaca tiga koma satu dua tiga dan bukan tiga koma seratus dua puluh tiga.

Itu pelafalan yang benar dan logis, karena jika Anda konsisten dengan cara pelafalan kedua, maka bilangan desimal 3,3333333 harus Anda baca sebagai tiga koma tiga juta tiga ratus tiga puluh tiga ribu tiga ratus tiga puluh tiga.

Menerjemahkan

Siapa bilang menerjemahkan itu gampang? Kefasihan Anda berbahasa asing tidak lantas menjadi jaminan bahwa Anda pun mahir dalam menerjemahkan.

Dulu kita—tepatnya: saya—sempat terbuai saat membaca buku-buku Kahlil Gibran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sri Koesdiantinah. Sampai sekarang pun keindahan kalimat-kalimat itu masih terasa. Kemudian beberapa tahun terakhir, karya penyair Lebanon ini banyak pula diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit lain. Kualitasnya ternyata memang lebih baik. Di sampul. Isinya? Saya sama sekali tidak bisa menikmatinya. Simak lanjutannya »

Newer entries »