keluarga

You are currently browsing articles tagged keluarga.

Hari Minggu kemarin, saya mengajak keluarga mengunjungi Taman Lalu Lintas di Cibubur. Saya sendiri belum pernah ke sana dan tahu keberadaan tempat ini dari sebuah acara di televisi. Pagi hari, sebelum berangkat, istri saya menghubungi salah seorang temannya yang tinggal di daerah Cibubur, bertanya lokasi persis taman tersebut, sebelum kami semua nyasar ke mana-mana.

Oh ya, soal nyasar, sepertinya ini kutukan buat kami … ya deh iya, buat saya. Entah bagaimana, saya sering kali nyasar pada kunjungan pertama ke sebuah tempat. Saya pernah tiba-tiba muncul di Condet, padahal saya bermaksud ke Jatinegara. Saya juga pernah harus terpaksa berputar-putar di Cilangkap, Jakarta Timur, hanya karena pintu keluar menuju Bogor di ruas tol T.B. Simatupang terlewati. Simak lanjutannya »

Hari Istimewa

Image Hosted by ImageShack.us

Tanggal 7 Juli 2007 memang tanggal yang istimewa karena susunan angkanya yang unik: 070707. Pada hari itu, banyak orang yang berusaha melakukan hal yang juga istimewa: pernikahan, pembukaan usaha baru, bahkan kelahiran. Bahkan untuk urusan yang terakhir, banyak calon ibu yang “tega” melakukan operasi caesar asalkan sang bayi bisa terlahir di hari itu.

Tapi bagi Faiq, hari istimewanya adalah hari ini. Dia lahir 20 Juli. Lihatlah susunan angka yang terbentuk di hari ulang tahunnya yang ketiga ini: 20072007.

Selamat ulang tahun, Kakang. Semoga Allah SWT selalu ada di semua langkahmu.

Liburan hari Kamis yang lalu, kami sekeluarga—untuk pertama kalinya—mengunjungi Taman Safari Indonesia di Cisarua, Bogor. Kami tahu, biasanya di saat liburan seperti ini, jalanan akan macet. Jadi, ketika kendaraan mulai merayap selepas gerbang tol Ciawi, kami sudah tidak kaget.

Kami berbelok meninggalkan jalan utama dan menyusuri jalan kecil menuju lokasi Taman Safari. Terlihat banyak sekali penjual wortel di sepanjang jalan. Istri saya sempat berkomentar heran, “Kok, tumben wortelnya kecil-kecil, jelek lagi. Biasanya wortel di daerah sini kan bagus-bagus, besar.”

Saya hanya menimpali, “Lagi jelek musimnya, kali.” Simak lanjutannya »

Bukan Sekadar Jual-Beli

Di dekat rumah mertua saya, ada penjual bubur ayam bernama Ceu Warin. Ceu itu panggilan kakak perempuan dalam bahasa Sunda, dari Euceu. Selepas subuh Ceu Warin sudah mulai berjualan dan biasanya sekitar pukul 8 atau 9, buburnya sudah habis.

Selain bubur ayam, dia juga menjual jajanan lain. Favorit saya adalah bala-bala dan gehu. Kalau kebetulan saya membawa anak-anak untuk bersarapan bubur ayam di sana, saat pulang biasanya Ceu Warin “menghadiahi” mereka dengan bala-bala atau gehu. Tidak selalu sih, tetapi cukup sering. Saya senang bukan karena hadiahnya itu, tetapi karena Ceu Warin telah memberikan perhatian kepada anak-anak saya. Dalam kadar tertentu, hubungan Ceu Warin dan kami tidak lagi sekadar hubungan jual-beli.

Terima kasih, Ceu Warin. Simak lanjutannya »