
Sekitar dua bulan yang lalu, saya mengajak Akmal ke sebuah rumah sakit. Kami—saya dan istri—khawatir dengan batuknya yang tak kunjung sembuh. Hampir satu bulan! Biasanya dalam hitungan hari, batuk atau flu biasa sembuh, tetapi yang ini tidak.
DSA yang memeriksa saat itu, setelah mendengar apa yang terjadi, menganjurkan agar Akmal menjalani beberapa pengujian. “Mudah-mudahan bukan, tapi saya curiga ini flek paru,” katanya.
“Maksud Dokter, anak saya mungkin terkena TB paru?”
Ibu Dokter tampak terkejut, “Ya, bisa dibilang begitu.”
Ada tiga pengujian yang harus Akmal lakukan saat itu: uji mantoux, uji darah, dan rontgen. Akmal meringis saat uji mantoux dan pengambilan contoh darah. Saya tahu dia kesakitan tetapi berusaha menahan tangis. Sampai-sampai petugas laboratorium bilang, “Gak apa-apa, boleh nangis kok.” Mata istri saya sih, sudah berkaca-kaca sejak tadi. Saya jadi teringat saat Akmal dulu diimunisasi dengan suntikan. Istri saya tidak pernah mau masuk ruang imunisasi. “Gak tega,” katanya. Simak lanjutannya »








