personal

You are currently browsing articles tagged personal.

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah cerpen di blog milik Vavai. Saya jadi teringat pengalaman saya menulis cerpen dan (dengan nekat) mengirimnya ke sebuah majalah.

Cerpen ini adalah cerpen pertama saya. Saya iseng membuatnya belasan tahun yang lalu saat saya masih bersekolah di SMA. Sekitar satu tahun kemudian saya tulis ulang dengan mesin tik tua milik ayah saya, lalu mengirimkannya ke Majalah Hai, sebuah majalah remaja yang sedang popular saat itu (atau juga sampai sekarang? Entah, saya sudah bukan remaja lagi, jadi tak terlalu memerhatikan). Simak lanjutannya »

Hari Istimewa

Image Hosted by ImageShack.us

Tanggal 7 Juli 2007 memang tanggal yang istimewa karena susunan angkanya yang unik: 070707. Pada hari itu, banyak orang yang berusaha melakukan hal yang juga istimewa: pernikahan, pembukaan usaha baru, bahkan kelahiran. Bahkan untuk urusan yang terakhir, banyak calon ibu yang “tega” melakukan operasi caesar asalkan sang bayi bisa terlahir di hari itu.

Tapi bagi Faiq, hari istimewanya adalah hari ini. Dia lahir 20 Juli. Lihatlah susunan angka yang terbentuk di hari ulang tahunnya yang ketiga ini: 20072007.

Selamat ulang tahun, Kakang. Semoga Allah SWT selalu ada di semua langkahmu.

Liburan hari Kamis yang lalu, kami sekeluarga—untuk pertama kalinya—mengunjungi Taman Safari Indonesia di Cisarua, Bogor. Kami tahu, biasanya di saat liburan seperti ini, jalanan akan macet. Jadi, ketika kendaraan mulai merayap selepas gerbang tol Ciawi, kami sudah tidak kaget.

Kami berbelok meninggalkan jalan utama dan menyusuri jalan kecil menuju lokasi Taman Safari. Terlihat banyak sekali penjual wortel di sepanjang jalan. Istri saya sempat berkomentar heran, “Kok, tumben wortelnya kecil-kecil, jelek lagi. Biasanya wortel di daerah sini kan bagus-bagus, besar.”

Saya hanya menimpali, “Lagi jelek musimnya, kali.” Simak lanjutannya »

Bukan Sekadar Jual-Beli

Di dekat rumah mertua saya, ada penjual bubur ayam bernama Ceu Warin. Ceu itu panggilan kakak perempuan dalam bahasa Sunda, dari Euceu. Selepas subuh Ceu Warin sudah mulai berjualan dan biasanya sekitar pukul 8 atau 9, buburnya sudah habis.

Selain bubur ayam, dia juga menjual jajanan lain. Favorit saya adalah bala-bala dan gehu. Kalau kebetulan saya membawa anak-anak untuk bersarapan bubur ayam di sana, saat pulang biasanya Ceu Warin “menghadiahi” mereka dengan bala-bala atau gehu. Tidak selalu sih, tetapi cukup sering. Saya senang bukan karena hadiahnya itu, tetapi karena Ceu Warin telah memberikan perhatian kepada anak-anak saya. Dalam kadar tertentu, hubungan Ceu Warin dan kami tidak lagi sekadar hubungan jual-beli.

Terima kasih, Ceu Warin. Simak lanjutannya »