personal

You are currently browsing articles tagged personal.

Bersepeda Motor

Sekitar (atau ehm, sekira, menurut Pikiran Rakyat) empat bulan lalu, saya kembali menggunakan sepeda motor. Sebelum itu, terakhir kali saya menggunakan (benar-benar menggunakan, dengan jarak tempuh melebihi 10 km, bukan hanya keliling-keliling kompleks perumahan atau sekadar beli sate ayam di depan) sepeda motor adalah saat masih di sekolah menengah atas. Itu berarti sudah lebih dari 10 tahun yang lalu.

Ternyata sulit juga ya, memulai sesuatu yang sudah telanjur ditinggalkan terlalu lama. Perlu keberanian. Juga kenekatan. Maksud saya tidak hanya dalam hal bersepedamotoria, tetapi juga ngeblog.

Sekitar dua bulan yang lalu, saya mengajak Akmal ke sebuah rumah sakit. Kami—saya dan istri—khawatir dengan batuknya yang tak kunjung sembuh. Hampir satu bulan! Biasanya dalam hitungan hari, batuk atau flu biasa sembuh, tetapi yang ini tidak.

DSA yang memeriksa saat itu, setelah mendengar apa yang terjadi, menganjurkan agar Akmal menjalani beberapa pengujian. “Mudah-mudahan bukan, tapi saya curiga ini flek paru,” katanya.

“Maksud Dokter, anak saya mungkin terkena TB paru?”

Ibu Dokter tampak terkejut, “Ya, bisa dibilang begitu.”

Ada tiga pengujian yang harus Akmal lakukan saat itu: uji mantoux, uji darah, dan rontgen. Akmal meringis saat uji mantoux dan pengambilan contoh darah. Saya tahu dia kesakitan tetapi berusaha menahan tangis. Sampai-sampai petugas laboratorium bilang, “Gak apa-apa, boleh nangis kok.” Mata istri saya sih, sudah berkaca-kaca sejak tadi. Saya jadi teringat saat Akmal dulu diimunisasi dengan suntikan. Istri saya tidak pernah mau masuk ruang imunisasi. “Gak tega,” katanya. Simak lanjutannya »

Malu, Kamu!

Kemarin. Pulang dari kantor. Bus sesak dengan para penumpang dan beberapa orang terpaksa berdiri. Beruntunglah saya yang masih bisa mendapat tempat duduk meskipun tidak terlalu nyaman karena orang yang duduk di sebelah berbadan besar. Saya tidak menyalahkan dia karena berbadan besar dan membuat saya harus selalu menggeser posisi duduk saya setiap lima menit. Lagi pula, dia sudah sangat berusaha menggeser-geser badannya memepet ke arah jendela agar ruang duduk saya lebih longgar. Namun, apa mau dikata.

Tiba-tiba, ponsel saya bergetar. Seorang teman mengirim pesan pendek. Saya balas saat itu juga. Setelah saling mengirim beberapa pesan, saya tulis pesan ini:

kita lanjut nanti deh. ini nih, ada org payah yg gak tau etika ngintip2 sms org.

Tiba-tiba, pemuda yang berdiri di sebelah saya melengos.

Saya pernah tinggal di Purwakarta 5 tahun lamanya sebelum akhirnya berpindah pekerjaan dan menetap di kota lain. Sebelumnya, buat saya, kota ini sekadar kota yang saya lewati jika saya melakukan perjalanan ke Jakarta dan sekitarnya. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya bahwa akhirnya saya bekerja dan tinggal di sini.

Di luar suka dan duka tinggal di sini, ada beberapa pengalaman “unik” yang saya ingat tentang kota ini. Simak lanjutannya »

« Older entries § Newer entries »